Sabtu, 20 April 2013

KAMI MENGAJAK ANDA UNTUK MAU MENULIS.



Menulis tidak hanya hobbi, tetapi bisa jadi obat hati dan pikiran. Menulis bisa melatih kesabaran,kemampuan menganalisa. Menulis tak memerlukan biaya mahal,modalnya yang utama adalah kemauan untuk menyempatkan diri untuk mencurahkan apa yang tersimpan didalam pikiran kedalam bentuk tulisan.

Pemikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan jika disalurkan melalui proses dari otak ke hati akan menghasilkan sebuah karya yang bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan oranglain.
Menulis seperti pekerjaan mengukir,awalnya sepahatan/segores,lalu ditambah,ditambah dan terus ditambah hingga akhirnya menjadi sebuah hamparan ukiran yang dikagumi orang lain dan seterusnya bisa saja menghasilkan sesuatu yang tak pernah kita duga.

Menulislah sepatah kata demi sepatah kata dan jangan dibuang jika belum selesai sebab besok masih bisa dilanjutkan sepatah kata lagi. Kata-kata kemarin kita rasa tidak menyambung dengan kata-kata hari ini, tidak usah galau. Jika sudah terkumpul dalam jumlah beberapa patah kata bisa saja kita ramu menjadi sebuah bait. Bait demi bait yang terkumpul akan diramu lagi menjadi sebuah syair. Seterusnya kumpulan syair-syair itu bisa diolah menjadi sebuah buku dan buku demi buku itu akan terkumpul sehingga membuka kemungkinan untuk menjadi perpustakaan.

Begitulah menulis,perlu pembiasaan dari hal yang terkecil.Tidak ada yang sulit sebab tulisan bermula dari apa yang terpikirkan (boleh berupa khayalan,angan-angan,mimpi,percakapan kita sehari-hari,hingga ketingkat ide). Yang namanya manusia pasti kepikiran toh ? entah soal senang,soal sedih,soal marah,soal benci,soal suka,bahkan soal lupa sekalipun.
Tugas utama adalah kita mau menggerakkan tangan kita untuk menuliskan apa saja yang terpikir oleh otak.terpandang oleh mata,terdengar oleh telinga,terasa dihati walau wujudnya dalam bentuk sepenggal kalimat.
Itu dulu bro,soal bagaimana semua ide itu bisa diolah menjadi artikel hingga buku,itu akan jadi tahu sendiri bro. Menulis akan mudah jika dimulai. Sebab selanjutnya pengalaman menulis dari sepenggal-sepengal akan secara otodidak mengajari kita untuk merangkai kata menjadi kalimat,merangkai kalimat menjadi bait dan merangkai bait menjadi syair.

Kami tidak percaya ada manusia yang tidak bisa jadi penulis sebab menulis adalah budaya manusia yang sudah cukup tua usianya dar zaman tak ada sekolah sampai berjubelnya perguruan tinggi seperti sekarang ini, menulis adalah sebuah pekerjaan lama yang sudah dikerjakan manusia.

Memang tak bisa dipungkiri bahwa banyak juga manusia yang merasa sulit untuk menuliskan apa yang terpikirkan olehnya,apa yang terlihat olehnya,apa yang terdengar olehnya,apa yang terasa olehnya. Dan untuk semua itu diperlukan suatu kegiatan yang namanya pendidikan dan pelatihan. 

Pendidikan menjangkau persoalan mengembangkan apa yang menjadi potensi yang dimaksudkan diatas dan pelatihan menjangkau pembiasaan hingga menjadi tradisi.kultur,atau memudahkan apa yang selama ini dianggap tidak mudah.
Mari menulis untuk menyuburkan harmonisasi kehidupan manusia di bumi.

Cerita Aku dan Ibuku



Tak sanggup aku melantunkan Surah Yassin dengan nada yang baik ketika aku berziarah kemakam Ibuku. Masih kuingat kami bersepeda berdua berboncengan keladang kami yang tak seberapa luas, kala itu aku masih duduk di kelas 0 TK Bhayangkari. Ladang sempit yang berada ditepi rel Kereta Api, dan jika Kereta Api bertenaga uap itu lewat...kami selalu melambaikan tangan kearah penumpang. Aku juga ingat ketika kami berdua kesungai utk mencuci pakaian lalu ibuku cepat-cepat menutupi mataku dgn telapak tangannya agar aku tak bisa melihat bangkai manusia yang hanyut terapung menjadi korban akibat kejahatan politik yang tengah berkecamuk di negeri ini. 

Aku juga ingat ketika aku diajak serta naik kereta api dari Tanjung Balai ke Medan guna menghadiri Pidato Politik Bung Karno di Lapangan Merdeka Medan dalam rangka konsolidasi PNI. Aku juga ingat ketika Ibuku mendekapku dgn erat tatkala dentuman senapan menyalak ditengah malam buta,gelap tanpa penerangan di tahun 1965. 

Aku juga ingat ketika kami berdua ditemani sang Nenek duduk didepan pintu rumah kami menanti kepulangan Ayah mencari beras karena stock sudah habis. Aku juga ingat bgm sukacitanya Ibu dan Nenekku menyambut kedatangan Ayah membawa beras yang dibungkus dalam kaki celana sebagai pengganti karung karena takut dirampas oleh segerombolan orang-orang politik. Waktu itu negara kami sedang diamuk perkelahian politik hingga berdarah-darah. Aku juga sangat senang membayangkan kembali ketika Ibuku dgn seragam putih-putih bersepeda ontel berangkat kerja mengajar di SD tempatnya bertugas. 

Aku juga ingat ketika Ibu memboncengku dgn sepeda ontelnya kesekolah tempatnya mengajar dan dgn bangga ia perkenalkan aku kepada teman-teman mengajarnya. Aku juga msh ingat ketika ia menjahit sepatu sekolahku yang sobek dgn tangannya karena Ayah tak punya uang untuk penggantinya. Semua jadi terkenang dan akhirnya aku menangis sebab aku tak sempat membahagiakannya dan aku tak berkesempatan turut mendampinginya saat ia akan pergi jauh,jauh sekali ketempat yang tak mungkin kudatangi. 

Kini tak ada lagi tempatku berkeluh kesah kecuali pada Tuhanku. Aku semakin merasa betapa sepi hidup tanpamu, seorang Ibu yang sangat mengerti akan keadaanku,kesulitanku....ucapan rasa rindumu padaku yang kau bisikkan beberapa saat sebelum keberangkatanmu ketempat yang sangat jauh itu...sangat menyesakkan dadaku,menyesali ketidak berdayaanku tapi juga sangat menyenangkan hatiku karena aku yang tak bisa membahagiakanmu ternyata masih kau sayangi semoga Allah memberikan Syurga NYA padamu Ibuku...