Tak sanggup aku melantunkan Surah
Yassin dengan nada yang baik ketika aku berziarah kemakam Ibuku. Masih kuingat
kami bersepeda berdua berboncengan keladang kami yang tak seberapa luas, kala
itu aku masih duduk di kelas 0 TK Bhayangkari. Ladang sempit yang berada ditepi
rel Kereta Api, dan jika Kereta Api bertenaga uap itu lewat...kami selalu
melambaikan tangan kearah penumpang. Aku juga ingat ketika kami berdua kesungai
utk mencuci pakaian lalu ibuku cepat-cepat menutupi mataku dgn telapak
tangannya agar aku tak bisa melihat bangkai manusia yang hanyut terapung
menjadi korban akibat kejahatan politik yang tengah berkecamuk di negeri ini.
Aku juga ingat ketika aku diajak serta naik kereta api dari Tanjung Balai ke
Medan guna menghadiri Pidato Politik Bung Karno di Lapangan Merdeka Medan dalam
rangka konsolidasi PNI. Aku juga ingat ketika Ibuku mendekapku dgn erat tatkala
dentuman senapan menyalak ditengah malam buta,gelap tanpa penerangan di tahun
1965.
Aku juga ingat ketika kami berdua ditemani sang Nenek duduk didepan pintu
rumah kami menanti kepulangan Ayah mencari beras karena stock sudah habis. Aku
juga ingat bgm sukacitanya Ibu dan Nenekku menyambut kedatangan Ayah membawa
beras yang dibungkus dalam kaki celana sebagai pengganti karung karena takut
dirampas oleh segerombolan orang-orang politik. Waktu itu negara kami sedang
diamuk perkelahian politik hingga berdarah-darah. Aku juga sangat senang
membayangkan kembali ketika Ibuku dgn seragam putih-putih bersepeda ontel
berangkat kerja mengajar di SD tempatnya bertugas.
Aku juga ingat ketika Ibu
memboncengku dgn sepeda ontelnya kesekolah tempatnya mengajar dan dgn bangga ia
perkenalkan aku kepada teman-teman mengajarnya. Aku juga msh ingat ketika ia
menjahit sepatu sekolahku yang sobek dgn tangannya karena Ayah tak punya uang
untuk penggantinya. Semua jadi terkenang dan akhirnya aku menangis sebab aku
tak sempat membahagiakannya dan aku tak berkesempatan turut mendampinginya saat
ia akan pergi jauh,jauh sekali ketempat yang tak mungkin kudatangi.
Kini tak
ada lagi tempatku berkeluh kesah kecuali pada Tuhanku. Aku semakin merasa
betapa sepi hidup tanpamu, seorang Ibu yang sangat mengerti akan
keadaanku,kesulitanku....ucapan rasa rindumu padaku yang kau bisikkan beberapa
saat sebelum keberangkatanmu ketempat yang sangat jauh itu...sangat menyesakkan
dadaku,menyesali ketidak berdayaanku tapi juga sangat menyenangkan hatiku
karena aku yang tak bisa membahagiakanmu ternyata masih kau sayangi semoga
Allah memberikan Syurga NYA padamu Ibuku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar