Sabtu, 20 April 2013

Cerita Aku dan Ibuku



Tak sanggup aku melantunkan Surah Yassin dengan nada yang baik ketika aku berziarah kemakam Ibuku. Masih kuingat kami bersepeda berdua berboncengan keladang kami yang tak seberapa luas, kala itu aku masih duduk di kelas 0 TK Bhayangkari. Ladang sempit yang berada ditepi rel Kereta Api, dan jika Kereta Api bertenaga uap itu lewat...kami selalu melambaikan tangan kearah penumpang. Aku juga ingat ketika kami berdua kesungai utk mencuci pakaian lalu ibuku cepat-cepat menutupi mataku dgn telapak tangannya agar aku tak bisa melihat bangkai manusia yang hanyut terapung menjadi korban akibat kejahatan politik yang tengah berkecamuk di negeri ini. 

Aku juga ingat ketika aku diajak serta naik kereta api dari Tanjung Balai ke Medan guna menghadiri Pidato Politik Bung Karno di Lapangan Merdeka Medan dalam rangka konsolidasi PNI. Aku juga ingat ketika Ibuku mendekapku dgn erat tatkala dentuman senapan menyalak ditengah malam buta,gelap tanpa penerangan di tahun 1965. 

Aku juga ingat ketika kami berdua ditemani sang Nenek duduk didepan pintu rumah kami menanti kepulangan Ayah mencari beras karena stock sudah habis. Aku juga ingat bgm sukacitanya Ibu dan Nenekku menyambut kedatangan Ayah membawa beras yang dibungkus dalam kaki celana sebagai pengganti karung karena takut dirampas oleh segerombolan orang-orang politik. Waktu itu negara kami sedang diamuk perkelahian politik hingga berdarah-darah. Aku juga sangat senang membayangkan kembali ketika Ibuku dgn seragam putih-putih bersepeda ontel berangkat kerja mengajar di SD tempatnya bertugas. 

Aku juga ingat ketika Ibu memboncengku dgn sepeda ontelnya kesekolah tempatnya mengajar dan dgn bangga ia perkenalkan aku kepada teman-teman mengajarnya. Aku juga msh ingat ketika ia menjahit sepatu sekolahku yang sobek dgn tangannya karena Ayah tak punya uang untuk penggantinya. Semua jadi terkenang dan akhirnya aku menangis sebab aku tak sempat membahagiakannya dan aku tak berkesempatan turut mendampinginya saat ia akan pergi jauh,jauh sekali ketempat yang tak mungkin kudatangi. 

Kini tak ada lagi tempatku berkeluh kesah kecuali pada Tuhanku. Aku semakin merasa betapa sepi hidup tanpamu, seorang Ibu yang sangat mengerti akan keadaanku,kesulitanku....ucapan rasa rindumu padaku yang kau bisikkan beberapa saat sebelum keberangkatanmu ketempat yang sangat jauh itu...sangat menyesakkan dadaku,menyesali ketidak berdayaanku tapi juga sangat menyenangkan hatiku karena aku yang tak bisa membahagiakanmu ternyata masih kau sayangi semoga Allah memberikan Syurga NYA padamu Ibuku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar